25/03/13

Mengenal Sampah Plastik dan Kegunaan “Nasi Basi”


Seruan Sanubari kali ini menyoroti tentang sampah plastik, khususnya yang ada di Kota Medan. Produk plastik yang sehari-hari dapat kita jumpai: PP, Plastik PE, Plastik OPP, Plastik HDPE, Plastik LDPE, Plastik PET, Plastik PS, Plastik Cor, Plastik PVC, Lunch Box (PS), Karet Gelang, Tisu, Plastik Mika, Plastik Vacuum. Jenisnya antara lain:

·   
        PP (Polypropylene) jenis plastik packing/pembungkus makanan kering/snack, sedotan plastik, kantong obat, penutup, cup plastik, tas, botol. Jenis plastik PP berbentuk lembaran dan  roll.
·           PE (Poly Ethylene) jenis plastik packing minuman atau cairan.
·           OPP (Oriented Polystyrene) jenis plastik bening, tidak tahan panas. Digunakan untuk packing roti, snack, t-shirt, baju dan jaket agar menambah keindahan dan penampilan produk. Agar tidak mudah robek-koyak dipergunakan double layer side dan gusset.
·        HDPE (High Density Polyethylene) plastik berwarna putih susu/putih bersih. Digunakan untuk kantong tisu, botol deterjen, minyak, plastik anti panas, pipa plastik, shopping bag dan kantong plastik untuk sayur makanan berkuah.
·           LDPE (Low Density Polyethylene) jenis plastik untuk pelapis kaleng, pembungkus makanan supaya tetap hangat (food wrapping), kantong grocery, pembungkus roti, dan tas plastik. Fleksibel dengan kekuatan remas.
·           PS (Polystyrene) bersifat berubah bentuk dan berbunyi. Jenis plastik digunakan untuk gabus (styrofoam, cup, box, tray daging, dan tempat telur).
·           Plastik Cor adalah jenis plastik yang biasa digunakan untuk pengecoran bangunan.
·           PVC (Poly Vinly Chlorine) adalah jenis plastik yang digunakan untuk packing botol minyak, daging, pipa air dan jendela plastik.
·           Lunchbox Polystyrene adalah jenis plastik yang digunakan untuk packing makanan ringan, nasi.
·           Plastik Vacuum plastik campuran nylon dan PE/LDPE untuk membungkus sayur, buah, daging yang hampa udara dan siap dimasak/dimakan.
·           Plastik Mika merupakan campuran antara bahan PP/PE/PVC terdiri dari plastik mika bening yang lemas untuk album, taplak meja, sampul, pembungkus, dan plastik mika film yang kaku untuk membuat kotak.
 

Sampah plastik di Kota Medan yang umum dijumpai adalah AMDK (air minum dalam kemasan), bekas minuman ringan, botol-botol plastik serta cup ice cream yang tergeletak di pinggir jalan. Sampah plastik ini kadang-kadang bersatu dengan sampah organik (sampah sayuran, bekas nasi, lauk-pauk dan lain sebagainya). Apabila warga membuang sampah ke dalam bak-bak penampungan sampah. Maka sampah ini pun oleh para pencari makanan babi kemudian dikais lagi. Makanan basi dan sampah organik untuk makanan babi sedangkan sampah non-organik dapat dijual kepada agen-agen Botot. Dari agen Botot lalu dijual lagi ke pabrik peleburan atau pendauran ulang. Di sinilah mata rantai itu terjadi, sampah dari nihil menjadi nilai, dari nothing menjadi penting.

Dalam foto dokumentasi Seruan Sanubari tampak seorang ibu ditemani anaknya sedang memilah dan memisahkan sampah plastik dan sampah organik yang akan diberikan untuk makanan ternak babi. Foto  diambil di Jalan Amal Luhur (bersebelahan dengan Jalan Bakti Luhur). Kemudian dalam gambar tampak foto sampah-sampah plastik air minuman dalam botol bekas sebuah acara.


Selain itu, sampah dari hasil memungut, memulung dapat digunakan untuk bertahan hidup sehari-hari. Sampah nasi basi yang sudah dibuang pun masih bisa diberikan kepada pakan ternak babi. Sedangkan sampah plastik bisa dijual. Di Kota Medan jangan pernah meremehkan para Botot, Parnab (para pencari nasi basi) karena terkadang kehidupan mereka tidak bisa disebut miskin. Sekalipun tinggal di pinggir rel, mereka memiliki sepeda motor (kereta-bahasa Medan-red), rumah, anjing peliharaan, kulkas, tv besar, handphone, dan angkot. [Sigi Jagad Pramudita]



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar